Wahyu Soeparno Putro Ikuti perjalananku

Tentang aku (di mata orang lain)

Sydney Morning Herald

Australian invites Indonesians to join his journey
TOM ALLARD HERALD CORRESPONDENT
September 21, 2009

JAKARTA: Each day throughout Ramadan, it has been a ritual enjoyed by a million Indonesians. As the sun set and they broke the fast, they tuned into an Islamic program on one of the main television networks.

Filmed all over the archipelago, Rahasia Sunnah - Secrets of the Sunnah - examines an aspect of Islam and Indonesia in each episode, often tying it in with modern scientific thinking that reveals the prescience of the prophet Muhammad's teachings.

The host is not, as one might expect, a leading Indonesian cleric, nor an authoritative import from the Middle East. Rather, it is a freckle-faced native of Adelaide who, after an unsatisfying career as a flight attendant, moved to Indonesia to work in manufacturing but became a soap opera star, perhaps most famous for a cross-dressing character in Toyib Minta Kawin (Toyib Wants to Get Married).

To say the least, it has been quite a journey for Wahyu Soeparno Putro. Born Dale Colins-Smith, he moved to Yogyakarta 15 years ago to work in management at a factory. With his mother having died, and estranged from his father, he became close to the security guard at his house, eventually being adopted by him and taking his name and religion. (Wahyu means divine inspiration. Soeparno is the security guard's name. Putro means son.)

In his early days in Indonesia, he was, like many expatriates, ''not a good boy'', enjoying the many nocturnal temptations of the country. But a gnawing sense of dissatisfaction went away after he converted to Islam, a gradual process that began with him waking to the morning call for prayer and joining in the Ramadan fast to be social, before he converted fully in 2003.

''Becoming a Muslim was the most amazing experience of my life. It's like coming home,'' says Wahyu, during an interview at his local mosque in Bekasi, a satellite city outside Jakarta. ''For me, the taste of life was not quite right; now it's perfect.''

Wahyu's conversion to Islam is played up in Rahasia Sunnah, as is, inevitably, the fact that he is a bule, slang for Caucasian.

The novelty of his show is that he is funny, learning about Islam and sharing it with viewers along the way. For many Indonesians, it is a welcome antidote to other religious programming, which can often be stern.

''I'm inviting people to come along on the journey with me. I'm talking about why this is allowed in Islam, and why it isn't allowed. Personally, I've been amazed at the clinical elements that back the prophet's teachings,'' he says.

''When you think of pork being banned, you think it was because it's a dirty animal. But did you know the gene of a pig is very close to humans? If you asked a fireman about the smell of burning human flesh, they will tell you it smells a lot like pork.''

The links between science and Islam in the show can seem tenuous. Wahyu insists that eating pork products is ''close to cannibalism'', while a martial arts exponent interviewed in one program urged viewers not to rely on genies and angels for strength as man was created by Allah to be the most powerful creature on earth, pointing to the mitochondrion in cells which he said produced 200,000 volts of energy per square centimetre.

Other episodes have examined traditional Islamic medicines known as gurah, inheritance (men get more than women) and why it is important to eat slowly when breaking the fast.

''Islam has got a bad rap from radical fundamentalists but the fasting month of Ramadan is the perfect example of how Islam is a religion of peace,'' Wahyu says. ''We are taught to withhold all personal desires, be it passion, rage or consumption of food and drink. Why? So that we can learn to be more like Muhammad, gentle, just and caring for others, no matter what their religion. At the end of the fast, we ask everyone we know to forgive us. It's a cleansing experience.''

Wahyu is passionate about Islam, and certainly no fundamentalist. Indeed, he sees the parallels between Islam and best-selling tomes of the modern age.

''We have to realise that [Koran and hadith] was written 1430 years ago. What's relevant today? There are some things that are not, there are others that are.

''You know that book The Secret, the one that's on Oprah, that's so, so Islamic,'' he says.

''Islam is all about your intentions, and if your intentions are positive, then good things will come to you.''

REPUBLIKA

Sabtu, 19 September 2009 pukul 01:59:00
MAS WAHYU MUDIK Tayangan Ringan Mudik Lebaran

Ini kisah lucu tentang mudiknya seorang bule naik motor butut, perahu, dan truk pengangkut sapi.Beberapa hari menjelang Lebaran, ribuan orang menyemut di terminal, stasiun kereta api, dan bandara. Mereka adalah para perantau yang haus nuansa kekeluargaan di kampung halaman. Dan, mereka pun pulang kampung tiap Lebaran, melahirkan tradisi mudik yang unik.Tiap tahun, berbagai moda transportasi, seperti bus, kereta api, dan pesawat udara, selalu penuh pemudik. Tas-tas besar, kardus-kardus coklat yang ditenteng dengan tali plastik, orang-orang yang mengantri di loket, menjadi pemandangan yang lazim tiap menjelang Lebaran.Mereka yang memilih menggunakan mobil pribadi dan kendaraan roda dua (motor) pun ikut memadati jalur-jalur mudik. Mudahnya mendapatkan motor secara kredit menambah sarana baru untuk mudik. Konvoi motor, dalam dua tahun terakhir, banyak mewarnai jalan raya.Mudik dengan sepeda motor bisa jadi memberikan nuansa yang berbeda dibanding moda transportasi lain. Menggunakan motor, tentu saja tidak sesumpek bus atau kereta. Kemacetan yang biasanya membuat pengendara mobil uring-uringan, tidak begitu masalah bagi pengguna motor. Dengan santai mereka bisa menyelip di sela-sela mobil.Tidak mengherankan, jika tahun ini pemudik motor dari Jakarta diperkirakan akan meningkat sebanyak 700 ribu orang dibanding tahun lalu. Total pemudik motor tahun ini, menurut perkiraan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, akan mencapai 3,9 juta orang.Masuk televisiFenomena mudik Lebaran ditangkap oleh tim produksi Mas Wahyu Mudik dari Trans 7. Tahun ini mereka mencoba merekam perjalanan mudik dengan menggunakan motor dari kacamata seorang Wahyu Soeparno Putro, pria asal Australia yang telah menjadi mualaf sejak 10 tahun yang lalu.Wahyu juga dikenal sebagai presenter acara Rahasia Sunah di Trans 7. Sosoknya yang memang bukan berasal dari Indonesia itu justru memberikan sentuhan berbeda dan cerita yang menarik selama perjalanan. "Kebetulan Wahyu juga punya keluarga angkat di Yogyakarta," ujar Ronny Suyana, produser.Tahun lalu, Mas Wahyu Mudik mengangkat perjalanan mudik menggunakan kereta api dan bus. Tahun ini, selain menggunakan motor, Wahyu juga akan merasakan mudik dengan menumpang perahu dan mobil pengantar sapi.Dengan menggunakan motor, Wahyu dan seorang temannya menempuh jalur puncak, Jatinangor, Sumedang, lalu berhenti di Cirebon. Perjalanan kemudian diteruskan dengan menggunakan perahu hingga Semarang. Untuk mencapai Yogyakarta, Wahyu memilih untuk menumpang mobil pengantar sapi. "Dari perjalanan ini kami ingin menangkap realita mudik,...

Website Tedy Gumilar:

 

Jika sekadar mengenal namanya, mungkin tak ada yang bakal ngeh jika ia bule dari Negeri Kanguru. Maklum, Wahyu Soeparno Putro bukan nama yang lazim untuk orang dari ras kulit putih. Wahyu Soeparno Putro alias ******* adalah host Diary Si Bule, salah satu segmen dalam acara Berbagi Cerita di ANTV yang dipandu pasangan artis dangdut, Dewi Persik dan Syaiful Jamil. Penampilannya yang jenaka meski terkadang naif membuatnya cepat dikenal pemirsa televisi di Indonesia.



Wahyu adalah pria berkebangsaan Australia yang lahir di Skotlandia, 28 Juli 1963 lalu. Pada tahun 1994 Wahyu diajak temannya untuk bekerja di Indonesia. Sang teman kebetulan adalah pemilik sebuah perusahaan handycraft di Yogyakarta. Ia tidak menampik tawaran itu, meski sama sekali tidak memiliki pengalaman studi dan kerja di bidang bisnis. “Saya tidak lagi punya orangtua di Australia, makanya tidak menolak saat diajak ke Indonesia,” kata Wahyu yang sudah yatim-piatu sejak berusia 20 tahun ini.

Medio 1999, ia memutuskan untuk menjadi mu’alaf. Pengalaman spritualnya ini terbilang cukup unik. Saat bekerja di Jogja, ia diangkat sebagai anak oleh Soeparno, satpam di tempat ia bekerja. Ia lalu tinggal serumah bersama orangtua angkatnya serta kelima saudara barunya. Kebetulan, rumah Soeparno tak jauh dari masjid sehingga setiap azan Subuh menggema, tidurnya selalu “terganggu”. Namun, lama-kelamaan ia menjadi terbiasa dengan suara azan. Malah, mulai banyak bertanya soal Islam. Proses pencarian keimanannya ini berakhir tatkala ia dibaptis menjadi muslim di masjid yang azannya dulu “mengganggu” tidurnya.

Sejak itulah, Wahyu berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Nama Wahyu diberikan oleh ayah angkatnya. Sedangkan Soeparno Putro adalah nama yang ia pilih sendiri untuk menghormati sang ayah angkat. "Awalnya mau diganti jadi Muhammad, tapi saya tidak mau karena sebagian besar bule yang masuk Islam bernama Muhammad," ujarnya.

Pada tahun 2001, Wahyu dan ke 700 karyawan lain di tempatnya bekerja terpaksa dirumahkan karena perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar. Karena sudah punya cukup banyak koneksi, taklama ia ditawari untuk bekerja di sebuah perusahaan garmen yang berkantor di Jakarta. Tawaran ini pun tak ditampiknya.

Awal 2006 menjadi tonggak kariernya di dunia hiburan tanah air. Ia mengawalinya sebagai pemeran pembantu di sinetron Toyib Minta Kawin yang diproduksi oleh Multivision Plus. Ia juga pernah bermain di sinetron komedi religi dangdut, Milyarder Geser Pager, yang ditayangkan oleh TPI 4 September tahun lalu. Soal dunia entertainment ternyata bukan hal baru bagi Wahyu. Maklum, ia pernah belajar di Centre for the Performing Arts, Adelaide dan di Victorian College of the Arts, Melbourne Australia. Bahkan ia pernah bekerja sebagai penyiar di sebuah stasiun radio di negeri kanguru ini.
Baginya, Indonesia tak sekadar ladang uang, tapi juga bagian dari dirinya yang tidak terpisahkan. “Saya ingin sekali menjadi warga negara Indonesia, dan baru akan menikah kalau sudah jadi WNI,” ujar bujangan ini. Untuk itu, ia sudah mengurusi soal perpindahan kewarganegaraan ini. “Sekarang sedang dalam proses. Insya Allah Januari 2008 sudah selesai,” terang Wahyu yang telah fasih berbahasa Indonesia ini.
Kecintaannya kepada Indonesia semakin menebal ketika mengasuh acara Diary Si Bule. Pasalnya, ia berkesempatan untuk mengunjungi daerah-daerah di Indonesia dan mengenal keindahan alam, keragaman serta kearifan budaya lokal. “Gila, orang Indonesia sangat ramah dan alamnya indah luar biasa,” ujarnya girang.

(***sampai saat ini masih belum WNI loh***)

REPUBLIKA

 By Republika Newsroom
Senin, 20 April 2009 pukul 12:22:00 

 Semua stigma negatif sebagaimana dilontarkan kelompok orientalis. Tentang Nabi Muhammad SAW, jelas tidak benar.


''Kalau saya melihat Mas Wahyu sekarang dengan orang Barat yang dulu tinggal di Australia itu jauh berbeda.'' Kata-kata itu meluncur dari mulut lelaki bernama lengkap Wahyu Soeparno Putro ketika mengawali pembicaraan dengan Republika di sela-sela waktu senggangnya.

Masyarakat Indonesia mengenal sosok pria bule ini dari layar kaca. Sejak beberapa tahun terakhir, pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith memang ikut meramaikan dunia entertainment di Tanah Air. Saat ini, ia melakoni sebagai pembawa acara program religi yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Menurut Wahyu, begitu ia biasa disapa kini, gambaran dirinya yang dulu adalah orang yang gemar minuman beralkohol dan dekat dengan kehidupan malam dan hura-hura. ''Meski sejak kecil saya menganut (agama) Buddha, saya lebih mementingkan berprestasi secara duniawi, punya harta dan pekerjaan yang membanggakan,'' ujar lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963.

Karena itu, bagi Wahyu, agama hanya merupakan sebuah identitas diri yang harus dimilikinya ketika memasuki jenjang sekolah dasar. Terlebih lagi, kedua orang tuanya tidak meyakini satu ajaran agama apa pun. Maka, ketika pihak sekolah tempatnya menuntut ilmu mewajibkan para muridnya untuk mencantumkan agama yang dianut, Wahyu pun memilih Buddha.

Perkenalannya secara dekat dengan Islam baru terjadi ketika ia memutuskan meninggalkan semua kemapanan yang didapatkan di negara asalnya, Australia, untuk kemudian pindah ke Indonesia pada 1994 silam. Semasa tinggal di negeri kangguru, ia sudah mengetahui tentang Islam dari berbagai pemberitaan mengenai konflik Timur Tengah yang disajikan media massa di Australia. Namun, dari berbagai pemberitaan tersebut, ia hanya mengetahui bahwa Islam itu identik dengan perang dan kekerasan.

''Sebenarnya saya pribadi tidak paham apa yang media sampaikan mengenai Timur Tengah, karena sejak kecil saya tidak gampang percaya dengan apa yang diberitakan oleh media. Terlebih lagi, ada teman yang bilang ia bisa terima semua agama kecuali Islam,'' tuturnya.

Namun, ketika pertama kali tinggal di Indonesia, Wahyu yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun ini justru tinggal di lingkungan masyarakat yang mayoritasnya Muslim. Yang menjadi kendala baginya saat itu bukan masalah perbedaan agama, melainkan soal perbedaan budaya dan adat istiadat masyarakat Yogyakarta yang terkenal sangat sopan dan halus dalam bertutur kata.

Di kota gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun, seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita, Wahyu kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno.

Azan Subuh
Lebih banyak bergaul dengan komunitas Muslim di tempat tinggalnya di Yogyakarta, membuat Wahyu merasa nyaman untuk mengenal lebih dalam mengenai Islam. Bahkan, tahun pertama tinggal di Yogyakarta, Wahyu sudah mulai ikut berpuasa bersama dengan semua rekan di kantornya yang dulu.

''Awalnya, saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,'' kata dia. Tetapi, setelah tahun kedua tinggal di sana, ia sudah bisa menjalankan puasa selama sebulan penuh.

Dari sekadar ikut-ikutan berpuasa, kata Wahyu, sejak itu ia mulai merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Jika biasanya sulit sekali untuk bangun pagi, entah kenapa setelah rutin ikut menjalankan puasa di bulan Ramadhan, ia kerap terbangun beberapa menit sebelum azan Subuh berkumandang.

Awalnya, suara azan Subuh adalah 'musuh' bebuyutan Wahyu. Ia merasa, suara itu sangat mengganggu tidurnya. Namun, siapa nyana, suara azan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf--seorang pemeluk Islam.

Rumah Soeparno letaknya hanya sepelemparan batu ke arah masjid. Karena tidak jauh dari masjid, tidak mengherankan kalau setiap pagi suara azan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Wahyu selalu terbangun di pagi hari. ''Ini yang membuat saya heran,'' katanya. ''Padahal, sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu mengubah pola hidup saya untuk bangun pagi.''

Pengalamannya tersebut kemudian ia ceritakan ke bapak angkatnya. Namun, oleh Soeparno, ia disarankan menemui seorang ustadz yang juga merupakan imam masjid di tempat tinggalnya, bernama Sigit. ''Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya, 'Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu','' kata Wahyu menirukan ucapan Pak Sigit.

Mendengar ucapan itu, Wahyu merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ''Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,'' kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ''Saat itu, saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,'' ujarnya lagi.

Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Wahyu terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustadz itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan mualaf. Dan, pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari Islam dan semua ajarannya kian menggelora.

Saat hasrat di dalam diri semakin 'merasa' Islam, Wahyu kemudian bertanya pada Soeparno. ''Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,'' kata dia kepada Soeparno. ''Tetapi, bagaimana caranya,'' sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Wahyu masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit.

Tidak membutuhkan waktu lama, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi hijrah itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan azan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap 'mengganggu' tidurnya.

Setelah memeluk Islam, ia baru menyadari bahwa semua stigma negatif mengenai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini ternyata tidak benar. Bahkan, selama berada dalam pelukan Islam hampir 10 tahun lamanya, ia merasakan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Dirinya yang sekarang, menurut Wahyu, adalah sosok pribadi yang jauh lebih sabar, lebih banyak diam daripada komentar, dan jauh lebih sederhana. ''Dulu apa yang saya dapat, saya nikmati sendiri. Kalau sekarang, saya menilai rezeki yang kita peroleh tidak semuanya milik kita, tapi ada hak orang lain.''

Kendati demikian, untuk urusan agama, lanjut Wahyu, dirinya tidak segan-segan untuk bersikap tegas. ''Kalau tidak, ya tidak. Tidak ada yang namanya abu-abu,'' tukasnya. Meski hal tersebut, diakuinya, terkadang membuat hubungan dengan teman-temannya menjadi kurang baik. dia/taq